Google
 

Tuesday, April 17, 2007

JURUS MENGELOLA DANA UNIT LINK

Return investasi diyakini menjadi daya tarik bagi nasabah memarkir dananya di unit link. Maka, sejumlah jurus dilakukan perusahaan asuransi agar dana yang dikelolanya bisa menghasilkan return maksimum. Seperti apa strategi perusahaan asuransi mengelola dana unit link?

Produk unit link bisa tumbuh pesat karena punya daya tarik tersendiri dibanding produk asuransi lain, yakni: return dari investasi. Sesuai dengan karakteristik produk ini, sebagian besar premi yang dibayarkan oleh nasabah, dialokasikan untuk investasi. Karena itu, di akhir kontrak, nasabah akan memperoleh nilai tunai yang lebih tinggi dibandingkan dengan produk asuransi lain.

Hotbonar Sinaga, mantan Ketua Dewan Asuransi Indonesia, mengungkapkan, sekarang ini orang lebih suka menyimpan uang pada unit link sejalan dengan menurunnya suku bunga bank. “Produk unit link cukup menarik karena menghasilkan return, walaupun risiko investasinya ada pada pemegang polis,” katanya. Unit link lebih menarik dibanding bunga deposito dan produk-produk asuransi tradisional. Return-nya bisa 25%-50% di atas tingkat bunga deposito, apalagi bunga deposito harus dipotong pajak.

Karena return menjadi daya tarik bagi nasabah unit link, tak heran para pemainnya berusaha untuk menghasilkan return yang maksimum. Berbagai strategi investasi pun dicoba diterapkan. Seperti diungkapkan Alan Tangkas Darmawan, Direktur Investasi PT Allianz Life Indonesia (Allianz), perusahaannya memiliki filosofi dan strategi sendiri dalam mengelola dana unit link nasabah.

Menurutnya, proses investasi harus konsisten, tertata dengan baik dan terbuka. Hal ini tercermin dengan secara rutin mengeluarkan laporan hasil investasi bagi nasabah. Lalu, memperkuat kerja sama tim dibanding kemampuan pribadi-pribadi, keputusan investasi didasarkan atas hasil riset untuk menetapkan hal-hal yang fundamental, berorientasi jangka panjang seperti filosofi yang diusung asuransi jwa, serta mengelola investasi secara dinamis agar hasilnya bisa lebih baik. Tak kalah penting, menerapkan manajemen risiko yang sangat ketat dalam setiap tingkatan. “Setiap kuartal, kami melakukan investment committee meeting yang juga dihadiri orang dari Allianz global,” ujar Alan sambil menambahkan bahwa pengelolaan dana unit link sebagian besar dilakukan sendiri.

Saat ini, Allianz memasarkan tiga produk unit link, yaitu: SmartLink New Flexi Account, Smartlink Maxi Safe, dan AlliSya (produk syariah). “Produk-produk itu ada yang single premium dan regular premium,” ujar Jens Reisch, Presdir Allianz. Ketiga produk itu memiliki basis investasi yang terbagi pada empat jenis. Pertama, Rupiah Cash Fund (RCF). Investasi ini sangat cocok bagi nasabah yang konservatif karena portofolio investasinya ke pasar uang dan instrumen pendapatan tetap. Alan mencontohkan per Agustus lalu portofolio investasinya ditempatkan di deposito/cash (26%) dan reksa dana pendapatan tetap (74%). Khusus untuk produk syariah, underlying portofolionya pada instrumen syariah. Saat ini, dana kelola RCF telah mencapai Rp 30,8 miliar dengan pertumbuhan return 13,37% periode Januari-Agustus 2006; sedangkan rata-rata return per tahun 12,25%.

Kedua, Fixed Income Fund (FIF), portofolio investasinya ditempatkan di deposito (2,86%), dan sisanya pada instrumen pendapatan tetap: reksa dana pendapatan tetap (59,81%); obligasi pemerintah (22,34%); dan obligasi korporasi (17,2%). Dana kelola FIF Rp 299,8 miliar dengan pertumbuhan return 21,11% periode Januari-Agustus 2006; sedangkan rata-rata return per tahun 14,19%.

Ketiga, Balance Fund (BF), portofolio investasinya: deposito (11,10%); obligasi di bawah satu tahun (4,47%); reksa dana pendapatan tetap (8,09%); dan reksa dana saham (76,34%). Dana kelola BF Rp 232,87 miliar dengan pertumbuhan return 15,12% periode Januari-Agustus 2006; sedangkan rata-rata return per tahun 15,58%. Keempat, Dollar Managed Fund (DMF). Investasinya: obligasi pemerintah (9,95%); obigasi korporasi (64,71%); reksa dana (16,21%); dan deposito (9,4%). Dana kelola DMF US$ 16,02 juta dengan pertumbuhan return 6,74% periode Januari-Agustus 2006; sedangkan rata-rata return per tahun 9,38%.

Sementara itu, PT AIG Life juga memasarkan unit link dengan nama produknya Aktiva dan Fortuna dengan pilihan jenis investasinya meliputi empat jenis. S. Budisuharto, Wapresdir AIG Life, memaparkan, pertama, IDR Fixed Income menawarkan investasi yang relatif stabil. Komposisi investasinya selama Januari-Desember 2005 adalah obligasi pemerintah (81%); obligasi perusahaan (2%); dan sisanya dimasukkan dalam kasa atau deposito berjangka. Return-nya pada tahun lalu -4,78%. Penyebabnya, menurut Budi, industri reksa dana pendapatan tetap rontok akibat adanya aksi redemption. Padahal rata-rata return per tahun sekitar 9%.

Produk yang kedua, IDR Equity menawarkan pertumbuhan investasi dan risiko yang relatif tinggi. Portofolionya terdiri dari deposito berjangka (18%) dan sebagian besarnya pada saham dengan komposisi: saham telekomunikasi (12%); pertambangan dan energi (20%); otomotif (6%); bank (10%); ritel (8%); semen (7%); farmasi (6%); dan yang lainnya (10%). “Kami punya batasan dalam berinvestasi di saham yaitu tidak boleh lebih dari 20% pada satu sektor industri, dan satu saham perusahaan tidak boleh lebih dari 5%,” tutur Budi. Ia menambahkan, return IDR Equity tahun lalu 18,51%.

Yang ketiga, US$ Fixed Income, menawarkan pendapatan yang relatif stabil dalam nilai US$. Portofolio investasinya ditempatkan pada cash/deposito 20%; obligasi pemerintah 37%; surat utang negara 21%; dan obligasi perusahaan 22%. Return yang dihasilkan selama setahun terakhir 2,74%. AIG Life mengelola investasinya sendiri, alasannya supaya lebih ekonomis. Untuk itu, agen yang memasarkan unit link harus punya lisensi khusus yang lebih tinggi tingkatannya dibanding lisensi agen konvensional. Sementara untuk manajer portofolio harus punya sertifikasi khusus sebagai manajer investasi di samping dari Bepepam ataupun dari Amerika Serikat, minimal Certified Financial Analyst.

Lalu, dalam strategi investasinya selalu dialokasikan cash/deposito yang rata-rata di atas 17%, dan kepada nasabah perusahaan ini tidak memberikan janji yang muluk-muluk. “Kami tidak memberikan harapan karena kami tidak terlalu agresif tapi prudent,” Budi menegaskan. Dijelaskan Budi, hingga semester pertama 2006 premi unit link yang sudah terhimpun Rp 800-900 miliar dari total premi AIG Life yang saat ini mencapai Rp 7 triliun. “Tahun lalu premi unit link Rp 450 miliar dan tahun ini ditargetkan bisa mencapai Rp 1 triliun. Setiap tahun kami harapkan unit link bisa tumbuh dua kali lipat,” ujarnya berharap.

Seperti halnya AIG Life, PT Sun Life Financial Indonesia (Sun Life) juga sangat prudent dalam menerapkan kebijakan investasi unit link. Apalagi unit link andalannya bernama Brilliance telah memberikan kontribusi besar terhadap total penjualan perusahaan di tahun 2005, yaitu 63% (Rp 389,97 miliar) dari total pendapatan premium Sun Life di tahun lalu yang sebesar Rp 613 miliar. “Berdasarkan data AAJI kuartal empat 2005, kami berada di peringkat ketiga di antara perusahaan-perusahaan asuransi jiwa yang menjual produk unit link,” ujar Barry S. Helpern, Presdir Sun Life.

Adapun strategi investasi Sun Life menyesuaikan aset investasi dengan saat jatuh tempo kewajiban, sehingga perusahaan ini selalu berhati-hati dalam mengambil keputusan dan kebijakan investasi. Itulah sebabnya, Sun Life lebih memilih untuk berinvestasi dalam obligasi jangka panjang dengan tingkat rating investasi yang tinggi – minimal peringkat A – di antara para penerbit yang memiliki reputasi terpercaya. Obligasi jangka pendek dan deposito dipilih hanya untuk menjaga strategi likuiditas yang baik. Risiko dan hasil pengembalian investasi (return) akan selalu menjadi parameter utama dalam mengambil keputusan strategi investasi.

Unit link Sun Life ada empat jenis: Brilliance Conservative, Brilliance Aggressive, Brilliance Moderate, dan US$ Managed Fund. ”Bertindak sebagai fund manager adalah PT Schroders Investment Management Indonesia,” ujar Barry. Ia merinci, return Brilliance Conservative dari Januari hingga Agustus 2006 adalah 4,93% (return -0,57% di tahun 2005; dan 7,25% tahun 2004). Kemudian, Brilliance Aggressive mencatat return 34,28% untuk periode Januari-Agustus 2006; 22,32% tahun 2005; dan 54,23% tahun 2004; serta Brilliance Moderate 35,08% (Januari-Agustus 2006); 18,75% (2005) dan 28,78% (2004). Sementara itu, USD Managed Fund mencetak return 6,21% periode Januari-Agustus 2006; dan 5,42% tahun 2005.

Sama seperti Sun Life, PT Axa Life Indonesia (ALI) juga mengalihdayakan (outsource) pengelolaan dana unit link kepada para manajer investasi yang profesional, kompeten dan terpercaya seperti Schroders dan Danareksa. “Hal ini untuk memastikan agar portofolio tersebut diatur secara profesional agar mendapat return yang optimum dan tata kelola yang baik,” ungkap William O’Brien Johnson, Presdir ALI.

Saat ini ALI memiliki empat instrumen investasi unit link. Yang pertama, Fixed Income Fund (Secure Money) dengan portofolio investasinya ke pasar uang (14%); serta obligasi pemerintah dan perusahaan (86%). Return yang dihasilkan dalam setahun terakhir 16,84%. Kedua, Balanced Fund (Progressive Money) dengan portofolio investasi pasar uang (12%); obligasi pemerintah dan perusahaan (totalnya 43%); serta saham pilihan (45%). Unit link ini dalam setahun terakhir membukukan return 24,18%.

Ketiga, Equity Fund (Dynamic Money), dengan portofolio investasi ke pasar uang (18%) dan saham pilihan (82%). Return yang dihasilkan setahun terakhir 33,03%. Keempat, Fixed Income US$. Protofolio investasinya ke pasar uang 22% dan obligasi US$ (78%). Return setahun terakhir 4%. “Selama Januari sampai Agustus tahun ini kami telah membukukan premi unit link Rp 25,5 miliar,” tutur William. Sementara melalui PT Axa Mandiri Financial Services, premi unit link yang sudah dibukukan selama Januari-Agustus 2006 Rp 356 miliar (99,95% dari total premi perusahaan ini).

Bagi Hotbonar untuk menentukan asuransi mana yang selalu membukukan return unit link paling besar agak sulit menghitungnya karena return itu fluktuatif. “Bisa saja tahun ini perusahaan asuransi A return-nya tinggi, tapi tahun depan bisa berganti. Itu semua tergantung pada kinerja underlying investasi unit link-nya,” katanya. Akan tetapi yang jelas, ke depan unit link akan tetap menjadi primadona bagi asuransi jiwa. Apalagi kecenderungan suku bunga terus menurun. Meski demikian, nasabah tetap perlu hati-hati dalam menentukan pilihan karena ada risikonya.

* Dede Suryadi

PASAR UNIT LINK MAKIN MENGGAIRAHKAN

Sejumlah perusahaan asuransi jiwa mengaku lebih dari 90% pendapatan premi berasal dari unit link. Nilai bisnisnya kini mencapai sekitar Rp 6 triliun. Produk unit link apa saja yang laris? Perusahaan asuransi mana yang paling sukses memasarkan produk ini?

Belakangan unit link menjadi primadona penjualan produk asuransi. Pesonanya mampu mengalahkan produk asuransi tradisional. Maklumlah, unit link bernilai ganda: investasi sekaligus proteksi. Produk ini fleksibel karena memberikan kebebasan nasabah untuk menentukan sendiri kebutuhan investasinya plus proteksi yang dituju. Tak heranlah, produk ini diserbu investor dengan nilai kapitalisasi pasar Rp 6 triliun lebih.

Maraknya pasar unit link bisa ditunjukkan dari data yang dikeluarkan Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI). Pada 2004 total penjualan unit link mencapai Rp 3,3 triliun. Tahun 2005 naik menjadi Rp 6,07 triliun, dan akhir 2006 diprediksi lebih besar lagi. Maklumlah, tahun 1998 – awal unit link dilempar ke pasar – baru ada tiga pemain; sekarang terdapat 22 perusahaan asuransi jiwa yang menerbitkan instrumen ini.

Perusahaan asuransi jiwa yang menjual unit link, di antaranya AIG Life, Prudential Life Assurance, Manulife Indonesia, Sun Life Financial Indonesia, Allianz Life Indonesia, Sequis Life, Jiwasraya, MAA Life, AIA Indonesia, Astra CMG Life, dan Axa Mandiri Financial Services. Hingga akhir 2005, Prudential menduduki posisi teratas dalam penjualan produk unit link dengan nilai Rp 2,06 triliun; disusul Axa Life Indonesia Rp 866 miliar; Allianz Life Rp 472 miliar; Sun Life Rp 390 miliar; AIG Life Rp 355 miliar; Sequis Life Rp 350 miliar; BNI Life Rp 257 miliar; AIA Indonesia Rp 254 miliar; Manulife Rp 247 miliar; dan Panin Life Rp 209 miliar (lihat Tabel: 10 Besar Perusahaan Asuransi Jiwa Penjual Unit Link).

Menariknya, kontribusi penjualan unit link terhadap total pendapatan premi sangat signifikan. Menurut Ade Bungsu, Manajer Aktuaria Prudential, sejak produk unit link pertama diperkenalkan di Indonesia, Prudential merupakan pemimpin pasar. Hingga kuartal pertama 2006, produk unit link Prudential atau yang lebih dikenal dengan sebutan PruLink mampu menguasai 37,7% pangsa pasar. Sementara itu, selama semester pertama 2006, total pendapatan premi yang berhasil dibukukan Prudential lebih dari Rp 1,1 triliun. Adapun jumlah dana yang dikelola Rp 4,3 triliun lebih dengan jumlah nasabah sebanyak 234 ribu pelanggan. “Sejauh ini kontribusi unit link PruLink mencapai 90% terhadap total pendapatan premi,” papar Ade.

Lebih rinci Ade menguraikan, dari kelima jenis produk PruLink: Prulink Rupiah Equity Fund masih sebagai kontributor terbesar dengan pangsa pasar 16,6%; disusul PruLink Rupiah Managed Fund 9,5%; Rupiah Fixed Income Fund 8,7%; Rupiah Cash Fund 5,7%; dan PruLink US Dollar Managed Fund 4%.

Pada 2005 boleh dibilang sebagai tahun yang luar biasa bagi Prudential lantaran kinerja keuangannya kinclong. Total pendapatan premi yang dibukukan mencapai Rp 2,1 triliun atau naik 37% dibanding tahun sebelumnya. Seiring dengan itu, total dana yang dikelola mencapai Rp 3,9 triliun, tumbuh 45% dari tahun 2004. Rasio risk based capital 645%, jauh melampaui ketentuan minimum 120% yang ditetapkan Departemen Keuangan.

Kontribusi unit link terhadap total premi Sequis Life juga kurang-lebih 90%. Menurut Dini Indriani, Manajer Pemasaran Senior Sequis Life, dari tahun ke tahun pendapatan preminya meningkat. Sebagai gambaran, premi tahun 2003 senilai Rp 526,63 miliar; tahun 2004 Rp 696,27 miliar; dan tahun 2005 Rp 834,82 miliar. Tahun 2006? “Kalau bisa lebih baik, tapi paling tidak sama dengan tahun lalu. Soalnya tahun ini kondisi bisnis kurang mendukung akibat kenaikan harga BBM dan turunnya daya beli konsumen,” Dini menjelaskan.

Hal yang sama juga terjadi pada PT Astra CMG Life. “Dari Januari hingga September 2006, pemegang polis baru Astra CMG 9.600 polis, yang mana 90%-nya dari unit link,” ujar Ivonne P. Chandra, Direktur Penjualan & Pemasaran PT Astra CMG Life. Itulah sebabnya sampai akhir 2006 ditargetkan meraih 14 ribu pemegang polis baru. Tahun 2005 tercatat ada 12-13 ribu polis di mana 50% berasal dari unit link. Sementara itu, total premi unit link dari kuartal ketiga 2004 sampai sekarang mencapai Rp 200 miliar lebih.

MAA Life Assurance juga mengamini besarnya kontribusi unit link. Selama tiga bulan terakhir, perusahaan ini mampu membukukan premi sekitar Rp 24 miliar dan kontribusi unit link berkisar 80%. “Hingga akhir 2006 kami targetkan penjualan unit link menembus Rp 200 miliar atau tumbuh 300% dibanding tahun sebelumnya,” kata Henry Januar, Kepala Unit Rekrutmen & Edukasi MAA Life Insurance bernada optimistis.

Sun Life Financial Indonesia (Sun Life) lebih konservatif dalam mengungkapkan besaran sumbangan unit link terhadap total premi. Meskipun begitu porsinya masih di atas 50%. “Tahun 2005 unit link Brilliance yang kami unggulkan menyumbang 63% dari total pendapatan premi dengan nilai penjualan Rp 389,97 miliar. Namun, kuartal kedua 2006 pendapatan premi baru dari unit link tumbuh 94% dibanding kuartal pertama 2006,” Barry S. Helpern, Presdir Sun Life, memaparkan. Adapun besarnya total premi Sun Life tahun 2005 sekitar Rp 613 miliar, sedangkan total premi baru mencapai Rp 444 miliar.

Sementara itu, Manulife sebagaimana diungkapkan Naresh Krishnan, Presdir PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, mengaku kontribusi unit link pada awalnya hanya 9%, lalu tumbuh pesat menjadi 47% pada 2005. Adapun besarnya premi baru Manulife untuk total produk pada 2004 senilai Rp 207,07 miliar; tahun 2005 Rp 144,57 miliar; dan hingga Agustus 2006 Rp 139,98 miliar.

Besarnya pendapatan premi yang dikantongi penerbit unit link tak bisa lepas dari produk-produk yang menjadi mesin uangnya. Sun Life umpamanya mengandalkan Brilliance sebagai produk unit link unggulan, yang meliputi empat macam produk: Brilliance Aggressive; Moderate; Conservative; dan USD Managed Fund. Total dana kelola Brilliance (Conservative, Moderate, Aggressive) hingga akhir Desember 2005 mencapai Rp 426,72 miliar; sedangkan total dana kelola USD Managed Fund sebesar US$ 840,40 ribu.

Menurut Naresh, produk unit link Manulife yang paling banyak terjual adalah Manulife Investa. Selama Desember 2005 hingga Agustus 2006 produk ini memiliki 7.111 total polis dengan total premi senilai Rp 34 miliar. “Produk ini diluncurkan 15 Juni 2005, sedangkan produk unit link perdana Manulife yang bernama ProInvest dipasarkan mulai tahun 1997,” ia menerangkan. Nilai investasi minimal Manulife Investa dari Rp 2 juta hingga Rp 50 juta.

MAA Life yang menjual unit link sejak 2001 menjagokan dua produknya, yakni: produk investasi MAAster Link; dan produk proteksi & investasi MAAster Life. Namun, per Mei 2006 produk ini dikemas ulang dan di-relaunching dengan label Maax Link dan Maax Life. Untuk Maax Life dipaketkan sesuai kebutuhan dengan lima tujuan masa depan yang diluncurkan pada September 2006. Kelima tujuan itu adalah pensiun, proteksi, pendidikan, tabungan, dan tujuan apa pun.

Karena unit link MAA Life membidik pasar menengah-bawah, pembayaran premi yang ditawarkan lebih terjangkau. “Premi bulanan kami mulai Rp 150 ribu. Yang menarik, jika nasabah mengubah jenis investasi pensiun, tanpa dikenakan biaya. Jadi, gratis perpindahan jenis dana tiga kali dalam setahun,” Henry menjelaskan.

Astra CMG pun memiliki dua unit link favorit: Investra Single dan Investra Premiere. Keduanya diluncurkan tahun 2004 dengan investasi awal minimum Rp 10 juta. “Investra Premiere adalah the best selling product karena menawarkan banyak fitur dan rider,” Ivonne menerangkan. Produk ini lebih masuk akal di kantong konsumen lantaran setoran premi tahunan tidak kelewat mahal, yakni Rp 3 juta atau bisa dibayar bulanan Rp 250 ribu.

Bagaimana kinerja return tiap unit link yang dijagokan para penerbitnya? Manajemen MAA Life mengklaim kinerja fund-nya tidak mengecewakan. Sebagai gambaran tahun lalu return mencapai 17,64% per tahun. Angka ini dinilainya terbaik ketiga dari semua produk unit link di Indonesia pada periode itu. “Untuk tahun ini, kinerja kami diprediksi lebih baik dibanding 2005,” ujar Henry. Ia menyarankan agar nasabah sabar menginvestasikan unit link hingga lima tahun untuk memetik return yang maksimum. Contohnya salah satu return fund unit link MAA Life sebesar 400% selama lima tahun atau rata-rata 80% per tahun.

Return unit link Sun Life pun lumayan. Contohnya: Brilliance Conservative sejak diluncurkan mencatat imbal hasil 23,12%; lalu Brilliance Moderate 100,37%; Brilliance Aggressive 167,35%; dan USD Managed Fund 6,57%. Kecuali USD Managed Fund yang diluncurkan Oktober 2004, ketiga rangkaian unit link Brilliance lain diperkenalkan sejak Juli 2002.

Bagi Dini, return unit link Sequis Life tidak bisa dipukul rata. Besar- kecilnya return tergantung pada jenis fund yang dipilih berdasarkan porsi alokasi investasinya. “Contohnya saya yang moderat menempatkan dana 30% di equity dan 70% di managed fund, akhirnya return yang didapat 25%-30% per tahun,” Dini mengungkapkan.

Prospek unit link diyakini pelaku industrinya lebih atraktif lagi di masa mendatang. “Berdasarkan data AAJI pertumbuhan unit link per tahun sekitar 30%. Ini artinya makin banyak orang yang sadar akan pentingnya investasi dibarengi asuransi,” ujar Ivonne. Opini ini diperkuat oleh Dini dengan tren investasi yang mendukung unit link. “Ke depan unit link makin bagus karena suku bunga turun dan pasar saham dalam kondisi oke pada empat tahun terakhir,” kata Dini.

Pengamat asuransi Hotbonar Sinaga mengungkapkan, potensi pasar unit link masih terbuka lebar. Bayangkan, dari 200 juta lebih penduduk Indonesia, jumlah pemegang polis hanya mencapai 25-50 ribu orang atau sekitar 12%. Bahkan yang memiliki polis asuransi jiwa atas nama sendiri baru 2%. “Melihat besarnya peluang itu, agen penjual asuransinya pun membludak, dan sekarang berjumlah 90 ribu orang lebih. Tapi ingat, bertambahnya jumlah agen mesti diiringi dengan peningkatan kualitas SDM,” Hotbonar mengingatkan. Betul, jangan sampai industri unit link terpukul gara-gara mis-selling yang dilakukan oknum agen asuransi.


* Eva Martha Rahayu

UNTUNG MANA, BELI ASURANSI KONVENSIONAL, REKSA DANA, ATAU UNIT LINK?

Dengan bujet Rp 60 juta/tahun, investor Y (35 tahun) ingin membiakkan dananya dalam tempo 10 tahun. Bagaimana potensi return dan risikonya jika diinvestasikan ke asuransi murni, reksa dana atau unit link?

Seorang perencana keuangan dari sebuah perusahaan investasi di Jakarta mengaku sering kedatangan “pasien” yang bingung memilih produk investasi. Sang klien punyak segepok duit, tapi tidak tahu produk investasi apa yang cocok. Sementara penawaran produk investasi yang ada di depan mata meliputi asuransi, reksa dana dan unit link. Sesuai dengan karakter investor di Indonesia pada umumnya, klien ini tak mau nilai pokok investasinya tergeregoti. Bahkan, kalau bisa nilainya terus bertambah mengikuti lamanya masa investasi. Bagaimana caranya?

Bila Anda punya masalah seperti itu tidak usah bimbang. Sang “dokter investasi” tersebut siap memberikan beberapa alternatif obat sebagai solusinya. Mari kita bahas satu per satu mengenai asuransi tradisional, instrumen reksa dana dan unit link. Kasusnya kita ambil dari contoh Mr. Y dengan usia 35 tahun, bujet Rp 60 juta/tahun, periode investasinya 10 tahun.

Ditinjau dari segi asuransi murni, jelas produk ini tidak memberikan imbal hasil (return). Sebab prinsipnya, asuransi merupakan proteksi diri dari risiko, semisal asuransi jiwa. Jenis asuransi paling tua ini akan memberikan perlindungan finansial terhadap pihak yang ditinggalkan (keluarga atau ahli waris) bila seseorang (tertanggung) meninggal akibat sakit, kecelakaan, atau lanjut usia.

Manajer Pemasaran Senior Sequis Life, Dini Indriani, menjelaskan, jenis asuransi jiwa ini masih dibedakan lagi menjadi tiga. Pertama, term life atau asuransi jangka warsa. Asuransi ini bersifat proteksi murni, tanpa unsur tabungan sama sekali. Selain itu tidak ada nilai uang pertanggungan (UP) di akhir kontrak jika tertanggung masih hidup alias hangus. “Kelebihan asuransi ini, dengan nilai premi kecil dapat meraih proteksi cukup tinggi,” kata Dini.

Bentuk asuransi yang kedua adalah whole life. Asuransi ini memberikan perlindungan seumur hidup. Menariknya, ada nilai UP di akhir kontrak sebesar 100% UP + dividen dengan rata-rata masa asuransi 100 tahun. Akan tetapi, preminya lebih mahal dibanding term life dengan imbalan UP tidak hangus.

Ketiga, endowment, asuransi jiwa yang memberikan proteksi sekaligus manfaat tabungan sehingga dikenal dengan nama asuransi dwiguna. Selain nilai tunai, ada manfaat tahapan di tahun-tahun tertentu. Namun, preminya juga cukup mahal karena memberikan perlindungan manfaat tabungan cukup tinggi. Jadi, kalau dengan asumsi sama-sama tidak terjadi musibah (meninggal/kecelakaan), membeli asuransi tradisional itu kurang menguntungkan. Sebab, nasabah tidak mendapatkan return apa pun. Bandingkan jika nasabah itu membeli produk unit link atau reksa dana yang kisaran return-nya cukup oke. Berdasarkan data return satu tahun terakhir (15 September 2005 - 15 September 2006) sejumlah reksa dana yang dipublikasi di media cetak, angkanya mulai 43,39% hingga 66,53%.

Sementara itu, jika dilihat dari sisi coverage risiko, pastilah asuransi jiwa paling mantap, khususnya asuransi yang ada nilai tunai/tabungan. Wira Arjuna, Direktur Penjualan Allianz Life Indonesia, memberikan jawaban ilustrasi sebagai berikut. Dengan premi Rp 60 juta/tahun, maka selama 10 tahun total premi yang dibayarkan Mr. Y berarti Rp 600 juta (akhir kontrak umur Mr. X menjadi 45 tahun), dan nilai pertanggungan yang diterima sebesar Rp 1 miliar. Jadi, ketika Mr. Y terkena musibah cacat akibat kecelakaan atau meninggal dunia (usia belum 100 tahun) akan menerima santunan Rp 1 miliar atau total Rp 2 miliar (UP Rp 1 miliar + benefit Rp 1 miliar). Sementara, jika Mr. Y menderita penyakit kritis sebelum umur 70 tahun dapat tambahan Rp 350 juta (total Rp 1,35 miliar). Jika Mr. Y menderita cacat total tetap sebelum usia 65 tahun akan menerima tambahan Rp 500 juta atau total Rp 1,5 miliar.

Bagaimana kalkulasi dari sisi reksa dana? Muhammad Ichsan, perencana keuangan dari lembaga Prime Planner mengungkapkan dari segi investasi, reksa dana dan unit link memiliki benefit yang sama. Wajar saja lantaran keduanya dikelola oleh manajer investasi dengan jenis instrumen yang nyaris sama. Bedanya hanya porsi alokasi dana yang ditaruh di saham, pasar uang, obligasi atau campuran.

Besarnya potensi return reksa dana bisa merujuk pada data yang dipublikasi di koran dalam setahun terakhir. Untuk periode 15 September 2005 - 15 September 2006, return reksa dana pendapatan tetap tertinggi dicapai oleh Dana Tetap Harapan sebesar 43,39%; reksa dana saham dicapai TRIM Kapital 66,53%; lalu reksa dana pasar uang diraih AAA Money Market Fund 58,68%; sedangkan reksa dana campuran diperoleh Fortis Pesona 52,29%.

Bila Mr. Y secara konsisten menginvestasikan dana senilai Rp 60 juta/tahun di Dana Tetap Harapan, dan return-nya juga konsisten di angka 43,39%, dalam 10 tahun ia akan memiliki dana Rp 2,03 miliar. Sementara itu, jika diinvestasikan di TRIM Kapital dana Mr. Y akan menjadi Rp 2,54 miliar, atau Rp 2,33 miliar bila diinvestasikan di Fortis Pesona. Itu dengan asumsi, return-nya tidak diinvestasikan lagi. Bila Mr. Y menginvestasikan kembali yang diperolehnya, tentunya dana yang berhasil dihimpun melalui investasi di reksa dana itu akan jauh lebih besar.

Bicara risiko reksa dana, tergantung pada jenis reksa dana yang dipilih investor. Sebagaimana dalil investasi high risk, high return, maka reksa dana yang portofolionya condong ditempatkan ke saham lebih gede risikonya dibandingkan dengan reksa dana pendapatan tetap yang banyak bermain di deposito dan obligasi. Apalagi setahun terakhir marak diluncurkan reksa dana terproteksi, sehingga nilai pokok investasinya digaransi kembali 100%, maka risikonya lebih diminimalisasi.

Lalu, gambaran untung-rugi investasi unit link seperti apa? Tak dapat disangkal bahwa unit link memberikan manfaat ganda: investasi sekaligus proteksi. Dengan demikian lebih unggul ketimbang asuransi konvensional. Menurut Dini, keunggulan unit link terletak pada akses di berbagai instrumen investasi, diversifikasi untuk menekan risiko, dikelola manajer investasi yang piawai, fleksibel (bisa di-top up), dan bebas pajak. “Untuk tiga tahun pertama, penarikan yang dilakukan tidak melebihi investasi awal, tidak dikenakan pajak. Tapi kalau lebih kena pajak capital gains,” Dini menerangkan. Lagi pula laporan pertumbuhan dana kelola unit link dibuat dengan neraca terpisah, meski produk ini gabungan antara investasi dan asuransi.

Unit link berbeda dari asuransi konvensional. Kalau asuransi tradisional nilai tunainya terbatas ditempatkan ke produk atau jasa yang disodorkan perusahaan asuransi. Lain halnya dengan unit link. Di sini investor bebas memilih instrumen investasinya, mulai dari deposito, reksa dana pendapatan tetap, reksa dana campuran, reksa dana saham atau reksa dana pasar uang. Dengan demikian, investor dapat mengubah jenis investasi yang ditempatkan sesuai dengan persepsi dan perkembangan pasar. Sebagai contoh, jika awalnya dana ditempatkan ke deposito, tapi di lain waktu bursa menunjukkan potensi lebih baik, dana itu bisa dialihkan ke reksa dana saham.

Walau demikian, unit link juga punya kelemahan. Menurut Ichsan total minimum premi yang dibayar unit link lebih tinggi dibanding asuransi murni. Risikonya pun ditanggung pemegang polis saja. “Belum lagi investor mesti sabar karena manfaat unit link bisa dirasakan secara optimal setelah 6 tahun,” tutur Ichsan. Aidil Akbar Madjid, perencana keuangan dari Pavillion Capital, juga mengamini opini Ichsan. Dikatakannya, nilai tunai investasi unit link baru akan terbentuk pada tahun ketiga. Sebab pada tahun pertama dan kedua, premi yang dibayar nasabah lebih banyak digunakan untuk membayar komisi agen. Kalau pun nilai tunainya bisa ditarik, maksimum hanya 90%.

Sementara itu jika unit link dibandingkan dengan reksa dana, unit link lebih unggul karena punya unsur proteksi. Tentu saja dari sisi return riil yang dihasilkan unit link lebih kecil ketimbang reksa dana. Mengapa? “Di unit link bisa jadi kena dua kali fee: biaya fund yang ditarik manajer investasi dan asuransi dari perusahaan asuransi, sehingga return-nya tidak maksimum,” papar Akbar. Menurutnya, semenarik apa pun kemasan produk unit link, ia menyarankan sebaiknya Mr. Y membeli produk yang murni investasi atau asuransi orisinal (term life, whole life, endowment). Demikian halnya pendapat Ichsan yang menilai fee unit link lebih tinggi 3%-4% dibandingkan dengan reksa dana. Namun, Wira membantah tudingan fee unit link besar. “Pembelian unit link di Allianz hanya dikenakan biaya administrasi total Rp 150 ribu untuk berapa pun nilai investasi nasabah,” kata Wira.

Adapun gambaran besarnya return unit link diilustrasikan Wira melalui produk Smart Link yang dikeluarkan Allianz Life Indonesia. Berdasarkan kasus Mr. Y, maka bila ia membeli Smart Link, ia akan memperoleh return Rp 803,13 juta (asumsi proyeksi return 12% per tahun) pada tahun ke-10. Dengan demikian jika Mr. Y meninggal atau cacat total pada tahun ke-10, ahli warisnya berhak menerima dana Rp 1,80 miliar (UP Rp 1 miliar + benefit Rp 803,13 juta).

Guna menyiasati agar tidak kejeblos investasi unit link, mula-mula mesti dideteksi dulu kebutuhan dan tujuan investasi yang disesuaikan dengan profil risiko masing-masing nasabah. Apakah tujuan membeli unit link untuk memenuhi proteksi atas hilangnya pendapatan karena cacat, meninggal, menderita penyakit kritis, ataukah lebih ditujukan untuk akumulasi kekayaan alias investasi. Apabila tujuan nasabah untuk investasi, polis premi tunggal lebih cocok karena mengandung unsur asuransi lebih rendah ketimbang investasinya. Sebaliknya, polis unit link dengan pembayaran premi berkala dirancang untuk fokus ke proteksi. Celakanya, banyak nasabah yang terkecoh membeli polis unit link berkala dengan tujuan untuk investasi. Bisa diduga, nasabah golongan ini bakal kecewa setelah tahu dananya ludes untuk berbagai biaya asuransi. Akbar mengingatkan, jika nasabah membutuhkan proteksi lebih dari 25 tahun, unit link boleh dipertimbangkan. Akan tetapi, seandainya nasabah hanya memerlukan asuransi 10-20 tahun, lebih baik membeli asuransi term life dan sisanya untuk belanja reksa dana.

Di Sequis Life untuk mengantisipasi agar nasabah tidak kejeblos disediakan formulir deteksi yang disebut Portfolio Allocation Scoring System (PASS). “Dengan metode PASS kami bisa mengetahui usia, horison investasi, karakter risiko nasabah, potensi return yang diharapkan dan sebagainya. Setelah pengukuran itu kami tawarkan produk yang sesuai dengan kebutuhan nasabah,” Dini memaparkan. Dan tentunya, keputusan terakhir tetap berada di tangan nasabah.

* Eva Martha Rahayu

KONSEP "COMPOUND INTEREST"

Secara mendasar bunga biasa hanya memberikan keuntungan dari investasi awal yang ditempatkan. Misal, Anda menempatkan dana sebesar Rp1 juta rupiah, dan diperjanjikan akan diberikan keuntungan sebesar 6% per tahunnya. Nah, dengan bunga biasa di akhir tahun pertama Anda akan mendapatkan keuntungan sebesar Rp60.000. Kemudian di tahun kedua Anda akan mendapatkan keuntungan sebesar Rp60.000 dan seterusnya. Perhitungan keuntungan hanya diperoleh dari investasi awal saja.

Sedangkan konsep bunga berbunga berbeda. Dari investasi awal yang Rp1 juta Anda akan mendapatkan keuntungan diakhir tahun sebesar Rp60.000. di tahun selanjutnya, perhitungan investasi berdasarkan investasi awal ditambah dengan hasil investasi di tahun sebelumnya (Rp1 juta + Rp60.000), jadi keuntungan yang iddapat di tahun kedua menjadi Rp63.600. Di tahun selanjutnya keuntungan dihitung berdasarkan, (Rp1.060.000 + Rp63.600) x 6% = Rp67.416 dan seterusnya.

Jelas sekali dari contoh di atas, bahwa konsep bunga-berbunga memberikan keuntungan yang lebih besar. Tapi mengapa banyak orang yang gagal untuk memanfaatkan keuntungan dari konsep ini? Karena konsep ini adalah sebuah proses bukan hasil. Seperti halnya perencanaan keuangan yang Anda kembangkan, itu merupakan proses bukan hasil akhir. Banyak orang yang tidak memahami untuk mencapai tujuan akhir tentunya harus melalui proses. Seorang juara marathon kelas dunia, harus berlatih keras agar dapat menjadi yang terbaik. Prosesnya bagi mereka adalah berlatih dengan giat.

”The Rule of 72”
Rule 72 adalah cara mudah untuk mengestimasi bagaimana dana Anda dapat berkembang pada tingkat suku bunga yang berbeda. Ini dapat memberikan masukan kepada Anda untuk merencanakan tabungan yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Rule 72 ini membantu Anda menghitung berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk dana Anda berkembang menjadi dua kali lipat. Caranya: dengan membagi 72 dengan bunga yang Anda peroleh dari investasi yang ditempatkan. Hasilnya adalah waktu yang dibutuhkan dana Anda untuk tumbuh menjadi dua kali lipat. Misalkan, bunga yang Anda peroleh dari tabungan adalah sebesar 6%, maka dana Anda akan bertumbuh menjadi dua kali lipat dalam waktu 12 tahun (72/6 = 12).

Sebaliknya, bila Anda membagi 72 dengan jangka waktu yang dibutuhkan untuk mejadikan dana Anda bernilai dua kali lipat, maka perhitungan itu akan memberikan tingkat suku bunga yang harus Anda dapatkan untuk mencapai tujuan tersebut. Cobalah dengan kondisi Anda saat ini.

Lebih Lanjut dengan “Rule 72”—Interval
Jangka waktu yang dibutuhkan agar dana Anda berkembang menjadi dua kali lipat disebut sebagai interval. Sebagai illustrasi, misalkan Anda ingin mempersiapkan kebutuhan pensiun Anda di usia 55 tahun. Saat ini Anda berusia 30 tahun. Bila instrument yang Anda pilih memberikan tingkat suku bunga sebebsar 6%, jadi dana yang Anda miliki akan menjadi dua kali lipat dalam 12 tahun. berapa banyak interval yang terjadi selama proses perencanaan tersebut?

Jawabnya, kurangi usia Anda, 30 tahun dari waktu tujuan keuangan yang diinginkan, 55 tahun, hasilnya 25 (55-30). Bagi nilai tersebut (25) dengan 12 = 2,1 interval. Jadi bila saat ini Anda memiliki dana sebebsar Rp100 juta, dana Anda bisa bernilai Rp200 juta di usia Anda 42 tahun dan sebesar Rp400 juta di usia Anda 54 tahun.

Nah sekarang, bila Anda bisa mendapatkan tingkat suku bunga yang lebih baik, sebut saja 10%, maka uang Anda akan berlipat dua setiap 7,2 tahun. Berapa interval yang Anda miliki sekarang? Jadi, 25 dibagi 7,2 = 3,5. Ini berarti bahwa dana awal Rp100 juta yang Anda miliki bisa menjadi Rp1 miliar di saat Anda berusia 55 tahun. Sayangnya, tingkat suku bunga yang lebih tinggi, berarti semakin tinggi pula risikonya. Sedikit yang bisa menerima risiko yang lebih besar, kecuali mereka memahami apa arti risiko investasi dan apa yang terjadi bila mereka tidak mengambilnya.

Dalam hal investasi, ada dua risiko yang harus dihadapi oleh setiap individu. Mereka harus menghadapi risiko kehilangan modal awal karena harus melikuidasi investasi di saat pasar sedang turun atau risiko kehilangan daya beli karena adanya inflasi. Oleh karenanya, menyeimbangkan antara dampak inflasi dan tingkat risiko yang sebaiknya diambil menjadi sangat penting untuk mencapai tujuan keuangan yang diinginkan.

Memahami Kekuatan Interval
Sekarang kita tau berapa lama waktu yang dibutuhkan Rp1 menjadi Rp2, itu bergantung pada tingkat suku bunga yang diperoleh. Nah sekarang, berapa waktu yang dibutuhkan Rp2 menjadi Rp3? Atau Rp4 menjadi Rp5? Mari kita pelajari dari diagram di atas, di mana dibutuhkan satu interval penuh untuk melipat gandakan Rp1 menjadi Rp2.

Di interval kedua, di mana Rp2 menjadi Rp4 rupiah dalam satu interval penuh. Jadi dapat disimpulkan bahwa Rp2 menadi Rp3 hanya membutuhkan setengah interval (1/2). Sekarang bagaimana dengan Rp4 menjadi Rp5 rupiah? Rp4 menjadi Rp5 rupiah hanya membutuhkan seperempat (1/4) interval.

Jadi kalau kita lihat di sini, sangat jelas bahwa compound interest bukan merupakan persamaan linear. Tapi itu merupakan fungsi geometrik. Fungsi linear adalah 1, 2, 3, 4 dan seterusnya. Sedangkan fungsi geometrik adalah 1, 2, 4, 8, 16, 32 dan seterusnya. Perhatikan bahwa perkembangannya akan semakin besar dengan berjalannya waktu. Jelas sekali disini bahwa compound interest sangat menguntungkan. Pikirkan, dibutuhkan waktu 12 tahun (dengan asumsi tingkat bunga 6%) untuk mencapai pertumbuhan di interval pertama. Tapi hanya membutuhkan waktu 6 tahun di interval kedua untuk memberikan perkembangan yang sama. Akan tetapi, hanya membutuhkan waktu 3 tahun di interval ketiga untuk memperoleh pertumbuhan yang sama. Jadi sapat disimpulkan bawah compound interest akan bertambah keuntungan bila Anda tetap menjalannya selama jangka waktu yang lama.

Jangan Memutus Rantai Compound Interest
Jelas sekali dari ulasan di atas bahwa membutuhkan waktu untuk melihat dampak yang dinamis dari compound interest. Oleh karena itu, kami anjurkan agar Anda jangan pernah memutuskan rantai dari compound interest. Apa yang terjadi bila Anda memutuskannya? Maka Anda akan kembali ke interval pertama (kurva awal) dan harus memulai kembali interval baru (lihat diagram dibawah ini). Bila Anda memutuskan rantai compound interest maka Anda harus memulainya dari awal kembali.

Bila Anda TIDAK memutus rantai compound interest maka hasilnya akan dirasakan sangat besar di 3 tahun terakhir.

Banyak orang yang gagal untuk mempertahankan rantai compound interest karena berbagai hal. Hal ini mungkin saja terjadi karena di awal-awal tahun perkembangan dari investasi dirasa sangat lambat—membosankan. Sehingga mereka memutuskan untuk mencairkannya. Saran yang bisa kami sampaikan adalah miliki tujuan keuangan yang spesifik, karena dengan adanya tujuan tersebut akan lebih memotivasi Anda untuk tetap mempertahankan investasi sampai jangka waktu yang diinginkan. Apalagi bila tujuan tersebut adalah tujuan jangka panjang.

Semoga ulasan ini membuka mata kita semua akan dampak compound interest terhadap investasi yang kita tempatkan. Akhir kata, ada tiga hal yang bisa mempercepat pertumbuhan investasi yang Anda miliki, pertama adalah modal awal yang ditempatkan. Tapi itu bukanlah segalanya. Anda bisa melakukan dengan berkala. Kedua, adalah tingkat pengembalian. Tentunya semakin tinggi ekspektasi tingkat keuntungan akan berdampak juga terhadap kenaikan risikonya. Sesuaikan dengan toleransi risiko Anda, jangka waktu serta kebutuhan akan tingkat likuiditas. Dan terakhir adalah waktu. Saran kami, laukan program menabung sedini mungkin, manfaatkan dampak compound interest dengan waktu yang Anda miliki.

* M. Ichsan adalah seorang perencana keuangan.

KONSEP ANUITAS

Anuitas adalah jenis alat investasi yang digunakan sebagai sumber penghasilan tambahan bagi para pensiunan. Anuitas merupakan satu-satunya instrumen keuangan yang menawarkan jaminan penghasilan seumur hidup. Anuitas melakukan pembayaran berkala dalam periode tertentu seumur hidup. Fungsi dasar anuitas adalah memberikan proteksi terhadap kesulitan ekonomi karena seseorang hidup lebih lama dari sumber keuangan pribadinya. Periode pada saat premi disetorkan untuk membeli anuitas dikenal sebagai periode pengakumulasian dan periode di mana pembayaran anuitas dilakukan dikenal sebagai periode pendistribusian.

Dalam istilah anuitas jiwa murni, perusahaan asuransi jiwa akan menjamin pembayaran manfaat bulanan secara teratur kepada peserta anuitas (annuitant) seumur hidupnya. Jika pembayaran manfaat dilakukan untuk periode tertentu tetapi hanya selama peserta anuitas hidup, kontrak seperti itu dikenal sebagai anuitas jiwa sementara. Manfaat anuitas terdiri dari tiga bagian yaitu modal, bunga dan manfaat bagi ahli waris. Modal dibentuk dari pembayaran premi yang dibayarkan peserta dalam periode pengakumulasian. Bunga adalah hasil yang didapat dari dana yang berasal dari dana yang dibayarkan ketika dana tersebut jatuh tempo dan manfaat ahli waris adalah dana yang dikembalikan kepada peserta sebelum kematiannya. Manfaat-manfaat ini akan tersedia bagi ahli waris anuitas kelompok.

Perusahaan asuransi jiwa membuat struktur produk ini berdasarkan tabel mortalita dan perkiraan pengembalian hasil investasi. Dari informasi ini, mereka dapat menghitung anuitas kelompok untuk usia tertentu, jumlah pembayaran bulanan yang mereka jamin bisa lakukan bagi setiap peserta tanpa mengikis lebih awal dana yang telah diakumulasi anuitas kelompok. Dalam prinsip anuitas, hukum pelaksanaan rata-rata memperbolehkan jaminan penghasilan seumur hidup bagi setiap peserta anuitas. Sebagian orang akan hidup sampai usia 65, yang kita anggap sebagai ukuran rata-rata nasional. Sebagian lainnya akan hidup melebihi angka ini sedangkan yang lainnya akan meninggal dunia lebih awal.

Produk anuitas dapat diklasifikasikan dalam beberapa cara karena adanya perbedaan persepsi mengenai tanggal mulai manfaat berlaku, bagaimana premi dibayar, bagaimana dana anuitas diinvestasikan, penyerahan manfaat dan metode yang digunakan dalam menghitung manfaat. Beberapa cara umum dalam mengklasifikasikan anuitas termasuk yang berikut ini:

a. Anuitas premi tunggal vs premi berkala. Ada dua cara pembayaran anuitas dan metode pembayaran dapat digunakan sebagai pengklasifikasian alat investasi ini. Anuitas bisa dibeli dengan premi tunggal di mana anuitas segera dimulai atau dengan premi berkala selama beberapa tahun di mana anuitas akan di mulai di kemudian hari (ditunda).

b. Anuitas murni vs pasti. Anuitas juga bisa diklasifikasikan menurut kewajiban perusahaan asuransi kepada pemegang polis. Anuitas murni melakukan pembayaran manfaat kepada peserta anuitas seumur hidup peserta tersebut, terlepas dari panjang pendeknya jangka waktu tersebut. Anuitas dianggap likuid secara penuh pada saat peserta anuitas meninggal tanpa ada hubungan dengan harta waris peserta anuitas. Sebaliknya, suatu anuitas bisa mempunyai fitur pengembalian (refund). Instrumen ini dikembangkan karena adanya keberatan-keberatan atas penalti terhadap porsi modal pokok yang tidak digunakan jika peserta meninggal terlalu dini. Oleh karena itu, bahkan anuitas jiwa murni menyediakan penghasilan maksimum per dolar jumah modal pokok, anuitas ini tidak populer.

Perusahaan asuransi menggunakan fitur pengembalian untuk membuat anuitas lebih menarik bagi pemegang polis potensial. Salah satu variasi yang paling umum adalah anuitas dengan jumlah pembayaran terjamin. Periode penjaminan bisa bervariasi meskipun untuk produk periode pasti selama 15 tahun, berarti bahwa perusahaan asuransi akan mulai melakukan pembayaran manfaat selama 15 tahun terlepas dari meninggalnya peserta anuitas, merupakan pilihan umum yang ditawarkan. Saldo yang belum dibayarkan akan diserahkan kepada harta waris peserta anuitas.

Nah, kalau bisa disimpulkan dari penjelasan singkat mengenai program anuitas, sebenarnya program ini memberikan kepastian pendapatan saat Anda memasuki masa pensiun karena distribusi pendapatan bulanan akan dilakukan sampai Anda meninggal dunia. Jadi dalam hal ini Anda terhindari dari kemungkinan kehilangan atau kehabisan pendapatan selama Anda menjalani masa pensiun sampai meninggal.

* M. Ichsan adalah seorang perencana keuangan.

PENTINGNYA DISKUSI KEUANGAN SEBELUM MENIKAH

Andi dan Anti bertemu waktu sama-sama kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta terkenal di Jakarta. Setelah lulus, mereka mengambil jalan yang berbeda, Andi meneruskan kuliahnya di luar negeri dan Anti langsung bekerja. Dua tahun yang lalu, mereka bertemu kembali di sebuah pesta teman Anti. Andi diajak oleh temannya. Setelah itu mereka mulai berhubungan kembali.

Mereka membicarakan banyak hal, dari hal yang kecil sampai yang bersifat prinsipil. Dari pembicaraan tersebut, mereka meresakan adanya persamaan dalam tujuan hidup, sampai keinginan untuk membina keluarga dengan hanya dua anak. Tidak beberapa lama, mereka mulai menjalin hubungan lebih dekat. Pada bulan Januari mereka bertunangan. Pada bulan September mereka menikah.

Anti termasuk orang yang percaya bahwa uang tunai atau cash lebih baik. Sedangkan Andi merasa bahwa kartu kredit itu penting untuk berbagai transaksi dan kebutuhan darurat. Andi mempercayai bahwa dalam pernikahan, “apa yang saya miliki adalah milik pasangan saya juga”. Sehingga Andi menambahkan kartu kredit atas namanya untuk Anti.

Waktu pun berjalan, dan mereka memikirkan untuk memperbesar rumah yang sekarang mereka tinggali karena mereka berencana untuk memiliki anak. Merenovasi rumah cukup besar biayanya. Banyak kebutuhan perbaikan yang diperlukan mereka beli dengan kartu kredit. dalam waktu pendek, tagihan kartu kredi mereka meningkat cukup tajam. Tentunya, masing-masing dari mereka membayar dari tabungan mereka.

Namun, dalam suatu pertemuan penting dengan klien, Andi selalu membawa kartu kredit sebagai alat pembayaran. Setelah selesai dan ingin membayar dengan kartu kredit ternyata kartu kreditnya ditolak. Dan Andi pun mencoba kartu kredit kedua, ternyata kembali ditolak. Andi bingung, sepertinya dia selalu membayar tagihan walau memang tidak pernah secara full. Andi mencoba untuk menghubungi perusahaan penerbit kartu tersebut, ternyata, kartu kredit Andi sudah over limit.

Andi menyangka bahwa Anti juga selalu membayar tagihan kartu kreditnya. Sedangkan Anti juga menyangkan hal yang sama. Ternyata masing-masing dari mereka tidak membayar kenaikan dari tagihan karena renovasi. Hal ini mengakibatkan meningkatnya bunga yang harus dibayarkan dan jumlah total tagihan. Ternyata, mereka tidak pernah membicarakan masalah keuangan sebelum mereka memasuki kehidupan berkeluarga. Bila melihat hal ini, “ Andi berpikir, sudah seharusnyalah kami membicarakan masalah keuangan kami sebelum memasuki pernikahan”.

Anda bermaksud untuk menikah? Bila ya, sebaiknya Anda membicarakan masalah keuangan Anda dan calon pasangan Anda. Namun, Anda berkata, “ itu sih tidak romastis” orang mau menikah disuruh membicarakan maslaah keuangan. Memang bila dirasa hal ini tidaklah romastis, namun membicarakan masalah keuangan sebelum Anda memasuki masa pernikahan akan memberikan banyak manfaat bagi Anda berdua untuk mengetahui perihal keuangan masing-masing. Membicarakan hal keuangan jauh lebih baik dari berbagai hadiah yang mungkin Anda terima dari tamu-tamu yang datng ke pernikahan Anda dan calon pasangan Anda. Oleh karena itu, kami menyarankan beberapa langkah yang sebaiknya Anda dan calon pasangan Anda lakukan sebelum Anda mengatakan “I do” atau “Saya terima nikahnya…..”.

Tentukan siapa yang menjadi “Money Person”
Anda dan pasangan Anda seharusnya secara aktif inkut terlibat didalam keuangan, akan tetapi untuk mengindari kebingungan atau kesalahan, pastikan semua tagihan yang Anda berdua miliki dibayar tepat pada waktunya. Dalam hal ini ada baiknya Anda menentukan siapa yang akan membayar semua tagihan melalui tabungan atau simpanan bersama yang Anda dan pasangan Anda sisihkan dari pendapatan masing-masing. Besarnya bisa Anda diskusikan dengan pasangan Anda. Atau bila Anda merasa hal ini menjadi beban salah satu saja, trik lainnya yang bisa Anda lakukan adalah dengan membagi tanggung jawab keuangan masing-masing dalam keluarga. Misalkan, Anda sebagai istri bertanggung jawab terhadap semua kebutuhan belanja, karena biasanya istri yang lebih tau tentang hal ini. Jadi semua tagihan belanja Anda yang mengurunya. Sedangkan untuk kebutuhan biaya listrik telp, pembantu dan lainnya yang bersifat lebih tetap, suami yang bertanggung jawab. Kedua hal ini bisa saja Anda pilih salah satunya.

Saran yang bisa kami sampaikan dalam hal ini adalah tetap kumpulkan semua bill atau tagihan yang Anda dan pasangan Anda lakukan setiap bulannya. Hal ini bisa memberikan banyak manfaat bagi Anda berdua bila nantinya si kecil (anak) lahir. Sehingga Anda memiliki track record pengeluaran yang bisa Anda anggarkan setiap bulannya.

Hal ini merupakan kebutuhan harian atu bulanan keluarga, sedangkan untuk pembelian yang besar, seperti peralatan rumah tangga, barang-barang elektronik dan lain-lain sebaiknya salah satu dari Anda juga bertanggung jawab untuk maslaah pembayarannya. Namun dalam hal ini Anda berdua harus menyetujui pembelian besar yang akan Anda lakukan. Bicarakan dengan pasangan Anda sebelum keputusan diambil.

Apakah lebih baik untuk memiliki tabungan bersama dan tetap memiliki tabungan masing-masing? Menurut hemat kami, bila Anda menentukan satu orang sebagai penanggung jawab masalah pembayaran tagihan bulanan, maka sebaiknya Anda memiliki tabungan bersama. Tabungan ini merupakan penyisihan dari pendapatan Anda berdua setiap bulannya dan besarnya harus disesuaikan dengan pendapatan masing-masing.

Bila masing-masing Anda memiliki tanggung jawab masing-masing dalam hal pembayaran tagihan atau kebutuhan, maka tetap menurut hemat kami Anda memiliki tabungan bersama. Dalam hal ini, tabungan bersama lebih merupakan tabungan masa depan yang Anda dan pasangan Anda alokasikan. Karena dengan tabungan bersam akan lebih memberikan rasa kebersamaan dalam kehidupan berkeluarga.

Bicarakan masalah hutang Anda
Idealnya, Anda masing-masing tidak memiliki atau sudah membayar lunas tagihan (kartu kredit atau kredit mobil) yang masih tersisa sebelum pernikahan berlangsung. Bila hal ini tidak memungkinkan maka sebaiknya Anda membicarakan hal ini dengan calon pasangan Anda, berapa besar sisa hutang yang masih harus Anda lunasi. Dalam hal kartu kredit, ada baiknya masing-masing Anda memiliki satu kartu kredit dengan nama masing-masing dari penerbit yang berbeda. Agar masing-masing Anda memiliki catatan mengenai kredit Anda dan bermanfaat disaat kebutuhan yang mendadak.

Alokasi untuk dana darurat
Bagi mereka yang akan menikah, sebaiknya Anda memulai menyisihkan dana bersama yang dialokasikan untuk kebutuhan darurat. Para profesional keuangan keluarga selalu menganjurkan untuk menyediakan dana darurat sebesar 3-6 kali biaya hidup bulanan. Dua hal penting yang harus Anda perhatikan dalam hal dana darurat adalah dana tersebut harus dapat dengan mudah dicairkan dan tidak mengurangi nilainya. Oleh karena itu penempatan yang lazim digunakan adalah tabungan, deposito berjangka 1 bulan dan Reksadana pasar uang. Anda bisa mengalokasikan sebagian di produk-produk tersebut bukan hanya di satu tempat saja.

Koordinasi kembali benefit perusahaan atau asuransi masing-masing
Proteksi asuransi yang berlebih bisa menjadi uang yang sia-sia. Bila masing-masing Anda bekerja dan memilki benfit kesehatan maka hal ini merupakan keuntungan bagi Anda. namun bila salah satu atau Anda berdua tidak terproteksi maka ada baiknya Anda mengambil asuransi kesehatan.

Demikian pula dengan proteksi asuransi jiwa, bila masing-masing Anda sudah memilikinya, maka ada baiknya Anda meninjau ulang proteksi yang sudah dimiliki. Jangan sampai proteksi tersebut tumpang tindih. Harus disesuaikan dengan kebutuhan Anda dan pasangan Anda saat ini. Bila masing-masing Anda tidak memiliki asuransi jiwa sudah seharusnya Anda mempertimbangkannya sejak awal untuk memilikinya. Menurut hemat kami, ada empat hal yang harus dipertimbangkan sebagai faktor yang perlu diperhitungkan dalam menentukan jumlah uang pertanggungan (UP), Pertama, berapa jumlah hutang yang anda miliki(masing-masing Anda)?; kedua, berapa banyak aset/harta yang anda tinggalkan untuk keluarga?; ketiga, berapa lama aset tersebut dapat menghidupi mereka tanpa harus menurunkan standar gaya hidup mereka?; dan keempat, berapa banyak dana yang diperlukan untuk membiayai kehidupan anak-anak anda sampai mereka menjadi dewasa dan mandiri, termasuk biaya pendidikan mereka?

Mungkin untuk faktor yang terakhir, yaitu kebutuhan anak sampai mandiri dapat Anda perhitungkan bila saatnya tiba dimana Anda memiliki anak. Karena kami sangat yakin bahwa asuransi bukanlah sebuah produk namun merupakan perencanaan yang harus secara berkesinambungan di tinjau ulang dan ditambahkan bila dibutuhkan.

Mulailah menabung untuk tujuan masa depan
Memulailah menentukan tujuan yang Anda dan pasangan Anda inginkan. Tujuan keuangan yang Anda dan pasangan miliki, sangat bergantung dengan waktu, dari hanya beberapa tahun sampai lebih dari 30 tahun untuk menyisihkan dan menginvestasikan uang yang Anda hasilkan setiap bulannya. Semakin panjang waktu yang Anda miliki akan semakin sedikit uang yang harus Anda sisihkan dan investasikan untuk tujuan keuangan (nilai) yang sama. Misalkan Anda ingin memiliki uang disaat Anda berumur 50 tahun sebesar Rp. 1 milyar dan Anda hanya memiliki waktu 10, 15, 20, 25, 30, 35 dan 40 tahun untuk mencapainya maka Anda harus menyisihkan sebesar (asumsi bungan 10% pertahun):

Tahun---Tahunan--------Bulanan
10---------57,041,268-------4,753,439
15---------28,612,524-------2,384,377
20---------15,872,386-------1,322,699
25----------9,243,702---------770,308
30----------5,526,589---------460,549
35----------3,354,277----------279,523
40----------2,054,013----------171,168

Terlihat jelas dalam contoh perhitungan ini, semakin panjang waktu yang Anda miliki akan semakin sedikit uang yang harus Anda sisihkan secara regular setiap bulan atau tahunnya. Bila Anda memiliki waktu 40 tahun lagi untuk mencapai Rp.1 milyar maka Anda hanya membutuhkan dana setipa bulannya untuk diinvestasikan sebesar Rp.171,200. Oleh karenanya, kami sangat menganjurkan Anda, untuk memulianya sekarang, saat Anda memulai kehidupan Anda berdua.

Demikianlah beberapa langkah yang menurut hemat kami seharusnya Anda lakukan sebelum melangsungkan pernikahan. Semoga kehiduoan rumah tangga yang akan Anda dan calon pasangan Anda janalni penuh berkah dan tentram.*

* M. Ichsan adalah praktisi perencana keuangan.

APAKAH 1M CUKUP UNTUK MENJALANI MASA PENSIUN?

Sebut saja pasangan suami istri, Andi dan Tia, saat ini usai mereka diawal 50 tahunan. Mereka berharap uang yang selama ini ditabung untuk tujuan masa pensiun cukup untuk mereka gunakan. Saat ini Andi sebagai seorang arsitek, masih menjalani usahanya dengan baik. Sedangkan Tia, masih bekerja disebuah perusahaan swasta dalam bidang advertising.

Pasangan suami istri, Andi dan Tia, saat ini berusia 50-an, dan mereka tidak pernah berpikir menjadi seorang milliarder, tapi dari total tabungan atau investasi yang mereka lakukan selama ini mencapai angka 1 milyar. Selama kurang lebih 25 tahunan mereka menyisihkan sebagai dari pendapatan bulanannya untuk tujuan menjalani masa pensiun dengan aman dan sejahtera.

Namun demikian, 1 milliar saat ini tidaklah sama dengan 1 miliar 10 tahun yang lalu. Dengan 1 miliar 10 tahun yang lalu, kami sangat yakin dapat memenuhi semua kebutuhan yang Anda impikan dan menghapus mimpi buruk Anda mengenai kesulitan keuangan. Tapi apakah 1 miliar saat ini dapat mencukupi kebutuhan masa pensiun?

Andi dan Tia bermaksud bahwa uang Rp.1 Milyar yang mereka telah kumpulkan hanya untuk memenuhi kebutuhan mereka selama pensiun. Apakah menurut Anda jumlah tersebut dapat mencukupi? Mari kita pelajari satu-persatu.

Berapa kebutuhan tahunan selama pensiun?
Tentu saja, berapa lama satu miliar itu akan habis sangat dipengaruhi oleh pengeluaran atau kebutuhan yang diperlukan setiap tahunnya serta berapa lama Anda akan hidup. Dari sisi pengeluaran atau kebutuhan, banyak ahli keuangan yang mengatakan bahwa Anda membutuhkan minimal sekitar 70-80% dari pendapatan sebelum pensiun untuk dapat mempertahankan gaya hidup yang selama ini Anda jalani. Tentu saja Anda dapat mengeluarkan lebih sedikit dari ini, karena biasanya banyak pengeluaran-pengaluaran regular yang tidak lagi Anda lakukan, seperti, cicilan mobil, rumah dan lain-lain. Namun, terkadang biaya lain meningkat seperti biaya pengobatan dan rekreasi atau berlibur bersama pasangan Anda.

Dari sisi harapan hidup, saat ini dengan semakin majunya teknologi kesehatan dan semakin tingginya kesadaran masyarakat akan makanan sehat, dapat dipastikan bahwa usia kita akan bertambah panjang. Dari sumber estimasi SUPAS, di dapat bahwa estimasi harapan hidup masyarakat Indonesia terus bertambah panjang. Tahun 1980, untuk laki-laki, usia harapan hidupnya sekitar 50,90. sedangkan wanita, lebih panjang, 54 tahun. tapi bila kita lihat ditahun 2000, usia harapan hidup untuk laki-laki menjadi 65,92 dan wanita menjadi 69,90. Kalau Anda perhatikan, selama kurang lebih 20 tahun, usia harapan hidup masyarakat Indonesia pada umumnya meningkat lebih 15 tahun. Jadi bagi Anda yang masih jauh masa pensiunnya, perhatikan 20 tahuna mendatang mungkin akan naik 15 tahun lagi.

Sebagai prakiraan perhitungan kebutuhan masa pensiun, kami bisa memberikan contoh perhitungannya seperti berikut ini. misalkan pendapatan Andi dan Tia tahun lalu adalah Rp.120,00,000. dengan asumsi usia pensiun 55 dan kenaikan pendapatan 5% pertahun, pendapatan sebelum masa pensiun sekitar Rp.170 juta. Prakiraan kebutuhan masa pensiun diambil 70% dari pendapatan, sehingga kebutuhan diawal masa pensiun per tahun adalah sekitar Rp.119,200,000.

Perhitungan kebutuhan per tahun masa pensiun

Total Pendapatan Per Tahun (PV) : 120000000 x 1.06 = 127,200,000
Tahun Sampai Masa Pensiun (n) : 55 - 50 = 5
Peningkatan Pendapatan : 6%
Nilai Masa Depan dari Pendapatan : 170,222,293
Pendapatan Tahun pertama 70% x Rp.170,222,293 = Rp. 119,200,000 (dibulatkan)

Nah, sekarang setalah kita mendapatkan kebutuhan tahunan yang dibutuhkan oleh Andi dan Tia, maka kita bisa mencoba menghitung, apakah satu Milyar yang telah dikumpulkan bisa memenuhi kebutuhannya selama masa pensiun? Satu hal penting yang perlu diperhatikan adalah inflasi. Inflasi menggerogoti nilai uang Anda. semakin panjang masanya akan semakin besar pula penurunan daya beli atau nilai uang Anda.

Mari berhitung
Kita asumsikan bahwa tingkat inflasi sebesar 6% pertahun, mari kita lihat bagaimana dengan kondisi keuangan Andi dan Tia selama masa pensiun. Enam tahun setelah memasuki masa pensiun mereka membutuhkan dana sekitar Rp. 169 juta per tahunnya. Lima tahun kemudian mereka membutuhkan sekitar Rp.226,3 juta. Kenaikan ini diakibatkan oleh adanya inflasi. Oleh karena itu, dalam perhitungan ini sangat diharuskan untuk mempertimbangkan inflasi.

Andi termasuk investor yang tidak terlalu suka dengan risiko. Ia lebih memilih investasi yang aman-aman saja. Walau begitu, ia sangat paham bahwa dengan pertimbangan investasi seperti ii kurang menjanjikan untuk masa pensiunnya.

Kalau Andi mengambil investasi dengan prakiraan tingkat pengembalian sekitar 2% diatas inflasi (konservatif), maka uang 1 Milyar yang telah dikumpulkan akan hanya bertahan sampai 10 tahun masa pensiunnya atau diusia sekitar 65-an. Namun, kalau Andi lebih sedikit agresif dan menempatkan pada investasi dengan prakiraan tingkat pengembalian sekitar 6% diatas inflasi, maka dana tersebut akan bertahan selama 14 tahun sampai usia mereka 69 tahun.

Produk Anuitas
Selain Andi dan Tia tentunya bagi sebagian masyarakat, kehabisan dana yang telah dikumpulkan selama ini bisa sangat mengkhawatirkan. Oleh karena adakah satu produk yang dapat menjamin dana yang dibutuhkan selama kita masih hidup? Atau menjalani masa pensiun?

Anuitas jawabnya. Produk ini pada dasarnya sama dengan prosuk asuransi, yaitu memberikan proteksi terhadap kehilangan penghasilan, tetapi berbeda dari fungsi utamanya. Asuransi jiwa memberikan proteksi atas kemungkinan seseorang kehilangan penghasilan karena meninggal terlalu cepat, sedangkan anuitas, memberikan proteksi atas kemungkinan sesorang membutuhkan penghasilan karena hidup terlalu lama. Produk ini bisa menjadi alternative pilihan yang kita butuhkan bila kita takut akan kehilangan pendapatan selama kita menjalani masa pensiun atau hidup kita lebih panjang daripada dana yang kita miliki.

Sebagai illustrasi saja, bila Andi membeli produk anuitas, misalkan untuk jenis anuitas joint life, dengan asumsi tarif premi 14,03, maka Andi akan menerima seumur hidupnya dan seumur hidup pasangannya setiap tahun sekitar Rp. 71 juta-an. Tentunya ini kurang dari yang mereka butuhkan (dari hitungan diawal pertahun mereka memperkirakan kebutuhan sebesar Rp.119,200,000). Namun, dalam hal ini Andai tidak lagi dipusingkan kehabisan dana selam hidupnya, kalau ternyata Andi berumur panjang, sampai usianya 80 tahun-an.

Rumah bisa menjadi sumber dana yang besar
Disaat Anda masih bekerja dan membesarkan anak-anak, tentunya Anda membutuhkan ruang atau rumah yang cukup besar. Dengan berjalnnya waktu, anak-anak Anda sudah tidak lagi tinggal di rumah, mereka sudah mandiri, dan tinggal Anda dan pasangan Anda dirumah yang besar itu. Tinggal Anda dan pasangan Anda di rumah yang besar, tentunya membutuhkan banyak biaya.

Andi dan Tia saat ini memiliki rumah yang cukup besar dan diderah perumahan yang relative baik. Apakah Andi membutuhkan ruang atau rumah segitu besar? Tentunya tidak. Untuk itu, rumah itu bisa Anda jual dan membli rumah yang mungil namun asri untuk menjalani masa pensiun Anda berdua dengan pasangan Anda. Dari sisa dana hasil penjualan rumah yang Anda miliki bisa menjadi sarana tambahan dana bagi Anda untuk menjalani masa pensiun yang diinginkan.

Wah rumah kami dijual, tidaklah. Banyak sekali kenangan baik yang indah maupun sedih selama kami tinggal disana. Rumah biasanya memiliki histories tersendiri sehingga sulit untuk melepaskannya. Bila itu yang Anda rasakan, mungkin Anda bisa melakukan apa yang disebut reverse mortgages. Namun, fasilitas ini kami rasa belum ada di Indonesia. Tapi paling tidak Anda dapat mempelajari dan mendapat manfaat bila hal ini tersedia di Indoensia.

Cara kerja reverse mortgages. Dalam hal ini biasanya bank yang memberikan jasa ini dimana Anda menyerahkan sertifikat tanah yang Anda miliki dan sebagai gantinya bank akan memberikan sejumlah dana secara regular selama masa yang ditentukan atau sampai Anda meninggal. Setelah masa itu berlalu, maka tanah dan bangunan dimana Anda tinggal menjadi hak bank tersebut. Dengan jasa ini, Anda dapat memanfaatkan rumah yang Anda miliki sebagai salah satu sumber pendapatan selama masa pensiun.

Nah kembali ke pertanyaan judul diatas, apakah 1 milyar cukup untuk dapat hidup sejahtera selama masa pensiun? Bila pendapatan serta pengeluaran Anda sekitar pendapatan Andi dan Tia maka 1 Milyar itu akan cukup bila:

1. Anda siap menempatkan dana yang Anda miliki di investasi yang terdevirsifikasi dengan alokasi dana dalam saham selama masa pensiun yang Anda jalani.

2. Anda bisa memanfaatkan semua aset yang Anda miliki (dalam hal ini rumah) sebagai alternatif sumber dana dimasa pensiun.

3. Anda memiliki pertanggungan yang berbeda terhadap diri Anda dan pasangan Anda dari musibah terutama dari segi kesehatan.

Apakah Andai akan pensiun? Kalau melihat dari cara kerja seorang arsitek sebenarnya Andi bisaja saja terus bekerja selama ia masih dibutuhkan. Tentunya bila ia memutuskan untuk berhenti bekerja, maka dana yang sudah terkumpul harusnya sudah mencukupi untuk keperluan masa pensiun mereka. Bagaimana dengan Anda?

* Muhamad Ichsan, ChFC, MsFin, adalah parkitisi dan akademisi di bidang perencanaan keuangan. Ia adalah Managing Partner pada PrimaPlanner dan Direktur Program IFPI, serta mengajar di Ubinus dan STAN. Ichsan dapat dihubungi melalui email:ichsan02@yahoo.com